Kamis, 28 November 2013

Tentang Solo

Saya pernah tinggal di Solo selama dua tahun.  Jadi, kota Solo lumayan memberikan kesan untuk perjalanan hidup saya. Saya tinggal di Solo untuk bekerja, di Bandara International Adi Soemarmo.
Pict via Google
Tapi sayangnya saya bukan tipe orang yang suka berpetualang. Jadi saya kurang maksimal memanfaatkan dua tahun saya selama di Solo. Saya jarang pergi, saya jarang main. Hidup saya habis di bandara, saya tua di sana. Oke, ini curhat.  Jadi bukan karena saya tidak suka berpetualang, tapi karena saya tidak memiliki cukup waktu untuk jalan-jalan.  Kasihan.
Dengan hidup saya yang habis di bandara bukan berarti saya tidak memiliki cerita tentang kota Solo ya. Menurut saya, Solo itu kota yang tenang, damai, adem ayem. Saya cukup nyaman tinggal di Solo, dengan budayanya, dengan masyarakatnya. Saya sangat suka dengan cara bertutur kata masyarakat Solo, mereka halus. Sangat halus.
Apa yang paling saya suka dari kota Solo? Ehm, kulinernya! Yap, memang sih saya bukan tipikal orang yang doyan coba-coba. Saya cenderung ketika sudah doyan satu makanan, saya akan kembali ke tempat yang sama dan hampir setiap hari. Iya, saya memang setia. Saya punya beberapa  makanan favorit ketika saya tinggal di Solo, diantaranya ada; nasi liwet dan soto seger. Dua makanan itu enak, dan murah!
Pict via Google
Pict via Google
Sekali makan di Solo, paling mahal saya menghabiskan uang sepuluh ribu rupiah, itupun sudah sekalian minum dan gorengannya. Pernah sekali waktu saya makan mie ayam di dekat bandara, tempatnya terpencil memang, kalau disuruh untuk kembali, saya pasti akan kesasar. Mie ayam itu harganya dua ribu lima ratus rupiah, gorengannya dua ratus lima puluh rupiah, es tehnya lima ratus rupiah. Saya merasa sangat beruntung di hari saya menemukan mie ayam semurah itu. Karena saya wanita, harga murah itu sangat membahagiakan. Oya, saya juga punya satu tempat yang dulu hampir setiap hari pula saya datangi, sampai saya pernah berpikir untuk bekerja part time di situ saking betahnya. Nama tempatnya GreenBooks Caffe. Tempatnya sederhana, tapi mereka menyediakan buku-buku untuk di baca di tempat sambil ngopi, ngobrol, atau sekedar bermain kartu dengan teman.

Tapi pernah juga saya ke sana sendirian. Waktu itu saya jomblo dan tidak berteman. Ya Allah hidup saya begini amat. Ah, walaupun waktu itu saya jomblo, saya beruntung pernah mencicip kehidupan di Solo yang adem ayem itu.
Sampai sekarang, saya masih sering main ke Solo. Iya, saya di Solo tidak memiliki tempat tinggal, tapi di Solo saya memiliki tempat untuk kembali, dan saya menyebut mereka ‘sahabat’.

Mereka teman satu kost saya ketika saya tinggal di Solo, satu kost itu juga sama-sama bekerja di bandara. Betapa membosankannya hidup saya, ya? Di kost ketemu mereka, di kerjaan ketemu mereka. Tapi mereka salah satu alasan kenapa saya selalu ingin kembali ke Solo, tentunya selain rindu makanan dan kehidupan masyarakatnya. Saya berbohong kalau saya berkata tidak merindukan Solo. Bagaimana mungkin kota sedamai itu tidak saya rindukan. Bagaimana mungkin kota yang sudah mengajarkan saya bagaimana mencari uang tidak saya singgahi kembali. Saya banyak berterima kasih pada kota Solo, di Solo saya belajar dan berproses untuk dewasa, di Solo saya mendapat pengalaman dan teman, di Solo saya bertemu sahabat yang kemudian sudah saya anggap sebagai saudara.

Terima kasih Solo, untuk keramahanya. Nanti, ketika saya sudah memiliki suami dan anak, saya akan mengajak mereka untuk mengunjungi dan menikmati damainya Solo. Saya akan bercerita tentang Solo. Tentang Solo yang nyaman, adem ayem, dan membuat rindu. Terima kasih, Solo. J



2 komentar:

  1. setuju. nasi liwet solo emang ngangenin. jadi pengen pulang deh

    BalasHapus